Daerah

Ironi Satu Keluarga Tinggali Rumah Berukuran 2×3 di Tengah Kota Layak Huni

LANGITSULTRA.COM | KENDARI – Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari saat ini tengah gencar menata Kota Kendari sebagai Kota Layak Huni, ironisnya terdapat satu keluarga yang masih tinggal di hunian yang bisa disebut tidak layak huni.

Selama kurang lebih 30 tahun, Harpin tinggal hidup di rumah dengan ukuran sekiranya 2 X 3 meter di Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari.

Satu keluarga tersebut terdiri dari enam orang, yakni seorang bapak bernama Harping, ibu bernama Andina yang saat ini juga mengalami sakit, serta empat orang anaknya.

Namun sayangnya, Harping, yang merupakan kepala keluarga tersebut pada tahun 2020 lalu meninggal di rumah yang tidak layak huni tersebut.

Sudarta selaku Ketua RT 09, saat ditemui di lokasi mengatakan bahwa pihaknya bukan tidak peduli, namun setiap kali diusulkan untuk beda rumah selalu terkendala pada status lahan yang ditempati.

“Ini sudah berapa kali kita usulkan untuk pembedahan, cuma kendalanya di status tanah yang ditempati bukan miliknya, tapi milik keluarganya”, ungkapnya

“Kalau bantuan-bantuan lain itu banyak yang masuk, bahkan diprioritaskan mereka ini seperti PKH dan Bantuan sosial (Bansos) lainnya”, tambahnya.

Lebih lanjut, dirinya menambahkan bahwa saat ini pihaknya telah melakukan komunikasi dengan pemilik lahan dan secara swadaya akan membangunkan rumah di lokasi semi permanen untuk keluarga almarhum Harping.

Menurutnya, pemilik lahan juga bilang kalau mereka masih mau tinggal disini, ya silahkan. Mereka ini sudah 30 tahun tinggal disini. Selain itu, ibunya ini juga kan dalam keadaan sakit, dan lagi ada di moramo.

“Jadi kita ini berfikir bagaimana ibunya ini bisa kembali kerumahnya sini. Orang sehat saja tidak layak tinggal disini, apa lagi orang sakit. Makanya inisiatif warga disini kita swadayakan bikinkan rumah yang lebih layak tapi tidak permanen, rumah panggung ukuran 6 X 7 meter”, terangnya.

Dirinya membeberkan bahwa saat bapaknya meninggal, mayatnya itu itu terlentang tidak muat bahkan waktu mau diangkat mayatnya harus jongkok.

“Makanya dari situ kita tersentuh, karena kita harap juga bantuan bedah rumah dari Pemkot tapi sampai sekarang tidak ada respon”, jelasnya.

Editor : Faizal Tanjung

Ironi Satu Keluarga Tinggali Rumah Berukuran 2×3 di Tengah Kota Layak Huni
To Top